Setelah banyak halang dan rintangan yang dihadapi dari pagi hingga siang ini, akhirnya saya bisa tersenyum bahagia sekaligus miris. Pasalnya, saya seneng banget bisa seolah-olah sedang belayar di perairan cantik ini, disisi lain, kok saya berlayar dengan keadaan seperti ini ya? Perahu penuh dengan semen dan suara mesin yang otok-otok luar biasa mengganggu telinga. Malahan suara kapal motor ini mengalahkan kemerduan sengit suara helikopter, kebanyang? Sambil menikmati matahari siang itu, belaga sok-sok seperti bule, saya memejamkan mata meresapi angin sepoi-sepoi yang seringkali melewati wajah. Sembari melupakan suara mesin otok-otok itu, saya membayangkan betapa indahnya perairan ini. Andai saja langit siang itu tidak pucat pasih, saya pasti sudah bisa menikmati keindahan bawah lautnya dari atas sini, nampaknya sinar matahari yang tertutupi oleh awan awan yang layu itu juga ikut menutupi keindahan terumbu karang dan ikan-ikan di bawahnya. Saya kira, saya sudah begitu jauh masuk ke dalam alam bawah sadar. Tiba-tiba suara otok-otok itu lenyap dari gendang telinga saya. Sunyi.. hanya suara angin dan gemercik air yang masuk ke dalam indera pendengaran saya. Kemudian saya menghampiri kapten kapal motor tersebut, ternyata mesinnya mati! ow ow.. dalam hati saya kalap mencari jerigen kosong yang berguna sebagai pelampung, jikalau kapal motor ini tidak bisa menyelamatkan dirinya. Aduh, bagaimana ini? saya belum bisa berenang! dalam hati terus kalut, tapi di luarnya bertampang sebagainya pemberani dan petualang di iklan rokok yang sedang beredar di televisi. Entah lah, semenjak tahu medannya akan seperti ini, dari awal trip ini saya sudah melupakan ketakutan saya akan air. Dulu sih, naik sampan untuk menyebrang sungai ke air terjun cikaso saja saya sudah pucat dan was-was ngeluarin kamera. Lanjut ke keadaan sebenarnya, entah tragedi macam apalagi yang saya alami ini? kurang lebih setengah jam saya beserta keempat orang penumpang lainnya terjebak di tengah laut yang untungnya sedang kalem. Saya hanya bisa pasrah dan terus membacakan ayat kursi dalam hati. Kemudian, dari kejauhan, terdengar suara otok-otok yang lain. Ah semoga itu sejenis malaikat penolong yang bisa membawa saya, entah deh kemana saja. Di saat seperti itu, saya sempat melupakan trip saya ke Pulau Komodo, saya tidak mungkin nungguin perahu ini ini diperbaiki atau mungkin menunggu hingga seisi perahu dipenuhi air dan kemudian tenggelam. Setelah perahu otok-otok lain mendekat, kami mendengar kabar bahagia. Ternyata itu kapal yang juga akan balik ke Kampung Komodo. Horeee bukan main bahagianya! akhirnya kami melakukan transit yang paling spektakuler. Saya mencoba menggabungkan antara merangkak dan melompat. kya… syukur lah saya bisa pindah ke perahu sebelah dengan selamat begitu juga dengan gembolan bagong saya. Rasa sedih dan prihatin menghinggapi, kasian juga dua orang awak kapal itu, harus berjuang untuk memperbaiki mesin kapal, DI TENGAH LAUT! Selama di perjalanan, saya ditemani oleh pulau-pulau dengan perbukitannya yang cukup menyegarkan mata. Setidaknya ini pemandangan yang baru sekali saya lihat. Sejak saat itu, saya jadi berpikir, sesungguhnya modal utama bagi penduduk atau warga Indonesia adalah kapal pesiar. Gila, sayang aja begitu banyak pulau kosong dianggurin. Bahkan, sewaktu di perjalan itu saya melihat satu pulau kecil isinya pasir putih doang! Entah lah, sebelum perjalanan ini kan saya sering melihat peta kepulauan komodo, sejak sampai disini saya jadi suka nebak-nebak yang mana pulau rinca, yang mana pulau kanawa, dan pulau-pulau lainnya di sekitar sini, nyatanya tidak ada tebakan saya yang benar! hahaha berarti peta dan aslinya itu jauh berbeda kecuali kita melihatnya jauh dari udara. Perjalanan kali ini, saya benar-benar menikmatinya walau jauh dari kata kemapanan. Mungkin ini lah yang dibilang petualangan, ya, perjalanan hidup saya belum pernah sebegini menantangnya. Bisa saja kan saya parno dan ketakutan setengah mati dengan lautan ini dikarenakan saya yang ga bisa ngapung di air dan beberapa pengalaman buruk tenggelam di kolam renang? nyatanya saya masih bisa tenang-tenang saja dan benar-benar menikmati petualangan ini. Justru dari sana saya jadi berkhayal, berkhayal seperti petualangan Ernesto Guevara dan Alberto Granado yang melintasi benua Amerika Selatan-nya. Saya berkhayal berada di dalam film nya (The Motorcycle Diaries), ketika mereka melintasi danau dan membawa motornya di atas sebuah rakit, kemudian ketika mereka menaiki ferry menyusuri sungai amazon dan menyaksikan kapal kumuh di belakang ferry mereka. Disitu lah saya berada, berada di atas kapal dimana isinya penduduk asli Kampung Komodo. Kapal yang bisa dibilang jauh dari kata layak dan begitu juga penduduknya yang jauh dari kemapanan. Seluruh keterbatasan dan penduduk lokal ini adalah kenikmatan liburan saya sekarang ini. Saya jadi semakin menyatu dan mengenal tanah air ini beserta keberagamannya. Bagaimana dengan anda yang sepanjang tahun hidup di perkotaan? Melintasi pemukiman di pesisir Pulau Papagaran membuat saya makin tenang. Masalahnya sewaktu saya tahu bahwa di Pulau Komodo ada kampung komodo, saya jadi bertanya-tanya dan was-was, kok bisa sih ada pemukiman di sarang monster naga itu? pada ga takut apa ya diserang dan dimakan sama reptil terbesar seantero jagat ini? awalnya saya mengira Kampung Komodo terletak di pedalaman Pulau Komodo, yang kampungnya dikelilingi oleh hutan belantara, tidak ada listrik apa lagi sinyal. Setelah melihat desa papagaran itu, kemudian saya bertanya kepada ibu-ibu dari Kampung Komodo, apakah Kampung Komodo juga seperti itu? terletak di pesisir pantai? kemudian dia mengiyakan, ohh jadi Kampung Komodo itu seperti desa nelayan pada umumnya. Jelas saja Pak Nok bilang bahwa penduduk disini (Flores) banyak yang miskin, mereka tidak bisa melakukan apa-apa selain melaut, sedangkan peralatan mereka saja masih sangat terbatas, dan tentunya ruang gerak mereka dibatasi oleh oknum-oknum yang menguasai daerah tersebut. Di pertengahan laut, ombak semakin gencar menghujam kapal motor. Luar biasa! sampai airnya menyerang kami yang berada di dalam kapal, ya walau memang kapalnya tidak terlalu tertutup. Baru kali ini saya merasakan hal seperti ini, entah deh, di dalam hati ada perasaan senang tapi was-was. Rasanya diguncang ombak di perahu kecil seperti ini tuh seperti main ombak-ombakan di pasar malam, malahan lebih parah karena ombak yang mengguncang sangat fluktuatif gerakannya. Saya pun was-was, takut kapal terbalik digulung ombak, ah bener-bener gila nih, tapi dalam hati saya ketawa. kok bisa sih gue berada di posisi kayak gini sekarang??? hahaha
(Source: impulsif-traveler.blogspot.com)
Labuan Bajo, atau biasa juga disebut Labuhan Bajo adalah sebuah kota kecil di sebelah ujung barat Pulau Flores. Kota kecil ini berawal dari sebuah desa kecil, desa nelayan, yang kemudian berkembang menjadi sebuah daerah yang makin ramai dengan industri pariwisatanya. Sekarang, hotel-hotel telah menjamur di sepanjang jalan Yos Soedarso, Soekarno Hatta, dan segala penjuru pintu gerbang pariwisata Nusa Tenggara Timur. Tidak hanya sampai disitu, berbagai macam dive operator maupun liveaboard pun kian menjamur di tempat ini, semuanya menawarkan paket mengintip keindahan bumi flores bagian barat.
Sebenarnya cukup mudah untuk menjangkau daerah ini. Sekarang sudah banyak maskapai penerbangan yang melayani, seperti Merpati Airline, Wings Air, dan TransNusa. Maskapai penerbangan tersebut biasanya beroperasi dari Denpasar, Bali, jadi untuk mencapai Labuanbajo dibutuhkan transit di pulau dewata tersebut. Pilihan jalur darat pun dapat dipilih, misalnya saja, saya yang terbang ke Bali kemudian melanjutkannya ke Pulau Lombok yang langsung diteruskan dengan bus malam menuju Bima yang selanjutnya berganti dengan mini bus tujuan Sape. Dari ujung timur Pulau Sumbawa, yaitu Pelabuhan Sape, kita dapat meneruskannya dengan ferry menuju Labuan Bajo, yang jarak tempuhnya sekitar delapan hingga sepuluh jam. Jadi, total perjalanan darat dari Lombok hingga mencapai Labuanbajo adalah sekitar 24 hingga 26 jam! luar biasa bukan!
“Disana (Flores) itu pemandangannya luar biasa indahnya! tapi sayang, penduduknya miskin-miskin” ucap Pak Nok, pemilik penginapan tempat saya menginap sewaktu di Gili Trawangan. Siang itu, saya ngobrol-ngobrol dengan Pak Nok mengenai rencana saya untuk pergi ke Pulau Komodo. Ternyata, dulu pak Nok sempat bekerja sebagai tour guide sailing trip Lombok-Kepulauan Komodo, dia begitu takjub dengan keindahan alam Nusa Tenggara Timur, padahal di kampung asalnya saja, Lombok, sudah menawarkan begitu banyak keindahan alam. “Disini (Lombok) banyak yang sudah menyombongkan mengenai kekayaan alamnya, mereka belum tahu keadaan disana (Flores), uuhh disana luar biasa deh” ucap beliau untuk menegaskan. Duh! rasanya makin ga sabar buat menjelajahi daerah itu, dan sekarang saya sudah disini, walau hanya sampai Labuan Bajo, tapi saya yakin di Labuan Bajo ini, tidak kalah indahnya dengan wilayah bagian NTT lainnya.
Hari ini (Senin, 25 Juli 2011), sekitar 6.30 pagi itu, saya sudah keluar penginapan untuk solat subuh di masjid, masjidnya tidak terlalu jauh dari pelabuhan, berada di depan jalan raya. Kemudian saya mengendap-endap, mengambil wudhu dan sholat di dalam masjid itu. Perasaan saya dalam hati takut, takut kalau ditegur karena sholat subuh sesiang itu, haha takutnya tragedi di Phuket terulang, diceramahin ulama sewaktu liburan. Untung lah, saya masih dianggap orang normal, mungkin memang waktu solat subuhnya yang siang juga, jadi saya hanya telat 1 jam.
Sekitar pukul 7 saya dan Ray sudah berada di pelabuhan untuk mencari kapal yang bisa mengangkut kami ke Pulau Komodo. Ternyata, sudah tanya sana sini dan tawar sana sini, kami (atau mungkin saya) tidak cocok dengan harga yang ditawarkan. Mereka menawarkan kami harga termurah yaitu 800 ribu untuk ke Pulau Komodo (sudah termasuk menginap) dan 600 ribu untuk ke Pulau Rinca. Yah.. uang saya aja tinggal 400 ribu rupiah, dan itu bekal untuk sampai balik ke Jakarta. Akhirnya kami ke pasar pelabuhan, disana banyak kapal warga yang merapat untuk berbelanja, kebanyakan dari pulau-pulau di sekitar Labuan Bajo. Setalah tanya sana sini, kami menemukan kapal warga yang hendak balik ke Pulau Komodo, katanya dia berangkat sekitar jam 10 atau 11, dan waktu itu sudah jam delapan lewat, kami memutuskan untuk menunggu di kapal. Sembari menunggu, kami bergantian untuk sarapan dan menjaga tas di kapal.
Kondisi kapalnya sih menurut saya normal, tapi saya tidak yakin apakah kapal itu layak untuk didiami selama empat jam lebih selama di perjalanan nanti. Apalagi ada bau tidak sedap yaitu bau bensin yang sangat menyengat. Jangankan tempat alas duduk, tempat duduk aja tidak ada, kita semua harus menyatu dan berbaur dengan belanjaan, jadi harus pintar-pintar mencari posisi duduk. Pokoknya luar biasa banget deh. Selama empat jam lebih kami menunggu,kapal tak kunjung berangkat! padahal seluruh barang belanjaan dan penumpang yang berjubel sudah masuk ke dalam perahu. ah gila! barang belanjaannya banyak sekali, belum lagi penumpangnya yang berjumlah sekitar 20 orang. Mesin kapal pun mati dan tidak kunjung benar padahal dari tadi dibenerin. Di dalam hati saya panik, belum lagi serangan bau bensin yang menyengat, luar biasa bikin saya pusing dan sesak napas. Kemudian Ray was-was juga, dan mengajak saya untuk keluar dari kapal motor ini, dan berinisiatif untuk mencari kapal sewaan lain. Dengan sekitar akrobat, karena untuk keluar dari perahu ini mesti loncat ke perahu di sebelahnya, dengan catatan membawa ransel segede bagong. luar biasa banget..
Sembari dikejar waktu yang makin sore, saya dan Ray bergegas ke pelabuhan. Sesampainya disana, kami kembali ditawari harga sewa kapal yang tidak jauh berbeda dengan yang tadi pagi, ya sudah lah saya pasrah, mungkin kalau tidak jadi berangkat ya sudah, atau mesti ditunda esok hari. Kemudian, karena tahu waktu saya terbatas disini, si Ray memaksa saya untuk mengejar perahu motor yang tadi, karena kalau mesti besok akan tidak kekejar waktu balik saya ke Bali. Saya dan dia kembali ke pasar pelabuhan, ternyata kapal motor yang tadi kami naiki sudah menjauh dari dermaga. Saya bingung sekali, disuruh mengejar tapi saya bingung gimana caranya, ga mungkin juga nyebur ke laut kan.. Ternyata ada kapal lain yang juga akan ke Pulau Komodo, kapal motor itu hanya berpenumpang tiga orang beserta dua awak kapal. Kapal motor itu membawa bahan bahan bangunan seperti semen dan kayu kayu. Kemudian saya dan Ray segera naik karena kapal akan segera berangkat. Fiuh.. Akhirnya saya bisa tersenyum kembali setelah beberapa saat lalu tegang dan cemas. hahaha
Perahu motor semakin menjauhi Labuan Bajo. Semoga saja arusnya bagus sehingga cepat sampai, khawatir kalau sesampainya disana langit sudah mulai gelap. Tidak tahu medannya dan tentu ngeri akan si naga yang berkeliaran, Komodo. hiiii
(Source: impulsif-traveler.blogspot.com)
Seisi kapal sudah dipenuhi oleh para kuli pengangkut barang, mulai dari anak kecil, anak muda, hingga bapak yangs sudah tua. Untuk menghindari serbuannya, saya harus berlindung dan berpura-pura sebagai salah seorang anggota keluarga lagi. haha tapi kali ini saya mengaku sebagai kerabat bapak bapak yang dari tadi jadi teman ngobrol saya. Akhirnya, sampai keluar kapal saya jauh dari serbuan para porter tersebut.
Di luar, keluarga bapak tadi sudah menunggu. Mereka bersalaman dan berpelukan, mengharukan sekali, layaknya sudah lama tidak ketemu. Kemudian, sesuai janji bapak tadi, dia mengantarkan saya dulu ke penginapan, baik banget kan.. dia sampai meninggalkan keluarganya sejenak hanya demi mengantarkan pendatang baru ini. Setelah sampai di penginapan, ternyata sangat tidak layak, dan seperti tempat esek-esek, ah saya menolak, dan kemudian saya kembali bersama bapak tadi ke dekat pelabuhan. Kemudian kami berpisah, tanpa saya tau namanya. hiks.. bodoh banget sampe lupa nanya namanya, walau tidak akan bertemu lagi…
Saya pun sudah mempunya beberapa nama untuk penginapan. Saya sortir dari yang paling murah, yaitu Losmen Diaz. Menurut info yang saya dapat, losmen diaz ini harga per malamnya 25ribu rupiah per malam, luar biasa murah, harus cari sampai dapat! Kemudian tanya sana-sini, tidak ada yang tahu, bahkan penduduk sekitar pun tidak tahu.. Ya sudah, berdasarkan rekomendasi dari seorang TNI di sekitar situ, akhirnya saya ke Losmen Pelangi. Dari luar sih bagus, kemudian saya bertanya mengenai kamar kosong untuk satu orang, dan saya mendapat jawaban yang menyenangkan. Terdapat kamar kosong disana untuk sendiri, dan harganya hanya 30ribu rupiah per malam. Oke, saya ambil! Selanjutnya ketika melihat kamar nya, ya tidak buruk-buruk amat, terdapat 1 empat tidur double dan 1 single. Sayangnya, dinding antar rumah masih kayu, jarang-jarang pula, sehingga bisa melihat apa yang dilakukan oleh kamar sebelah. aduh kalau ada tindak mesum di kamar sebelah pasti ganggu banget! haha
Kemudian saya mencari kamar mandinya karena sudah seharian lebih ga kena air. Setelah menemukan kamar mandinya, ternyata ZONK banget!!! airnya kotor dan kolamnya banyak jentik nyamuk, penerangan pun seadanya, hiiii jiji! tapi apa boleh buat badan sudah lengket banget seharian di kapal! akhirnya, saya hanya mengandalkan air yang baru mengucur dari keran, itu pun mesti minta airnya dinyalakan dulu. Oh iya, sebelum saya mandi, saya sempat dipanggil oleh ibu pemilik penginapannya. Dia bilang bahwa saya harus sharing kamar saya dengan seseorang. Ternyata orang yang sharing kamar dengan saya adalah seorang anak muda juga, dari Jakarta, Ray namanya. Oh setelah melihat, dia adalah anak yang sewaktu di ferry sempat meminjam Lonely Planet si bule karibia, saya sempat melihat dia mondar-mandir di ferry tadi. Untunglah, saya jadi punya teman jalan, apalagi dia juga mau ke pulau komodo besok!
Malamnya, saya dan Ray jalan-jalan malam di Labuan Bajo, sebuah kota kecil di ujung barat Pulau Flores, NTT. Di sepanjang jalan Yos Sudarso banyak sekali dive operator maupun agent liveaboard yang menyediakan pake ke Komodo, Rinca, dan pulau pulau di sekitarnya. Sekedar iseng saja, Ray mencoba masuk ke dalam sebuah operator liveaboard yang kantornya cukup keren. Kemudian dia menanyai mengenai harga paket liveaboard-nya, hmm lumayan juga paket termurahnya 1,8 juta kalau tidak salah, kurang lebih paket ini menjangkau berlayar dari kepulauan komodo hingga Lombok, ya kurang lebih menjangkau pulau-pulau yang dilewati seperti Satonda dan Moyo. Selepas dari tempat itu, kami singgah di rumah makan untuk sekedar ngeteh dan membicarakan rencana esok. Okay! ga sabar banget buat besok, pastinya akan sangat menantang karena berencana naik kapal penduduk kampung komodo yang akan singgah untuk berbelanja disini.
Perjalanan menuju Patong City dari Big Buddha tidak begitu jauh, saya dan yunus menyempatkan diri dulu untuk mengisi bensin di Shell. Setelah memasuki Phuket City kami bingung arah dan tujuan. Beberapa kali mengelilingi jalan namun tidak ada orang berjualan durian di pinggir jalan. Kemudian entah mengapa saya dan Yunus terpisah. Saya yang membonceng Eji pun sempat menunggu sebentar di jalur yang seharunya akan dilewati oleh Yunus dan Saras, namun beberapa menit ditunggu tidak lewat juga, akhirnya saya mengambil jalan ke kiri untuk mencari putaran ke arah tempat terakhir kali kami berpisah dengan Yunus dan Saras. Saya dan Eji pun balik ke tempat tersebut, namun tidak melihat batang hidung mereka satu pun, akhirnya saya memutuskan untuk menelusuri jalan yang kemudian hasilnya sia-sia saja.
Perut sudah semakin keroncongan, Yunus dan Saras belum tau kabarnya gimana. Akhirnya saya dan Eji memutuskan untuk menepi di sebuah pemukiman di pinggir jalan. Kemudian saya keliling mencari jajanan yang enak, diantaranya ada rujak, sejenis gado-gado, nasi rames, buah-buahan, dan beberapa gorengan. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli makanan sejenis Kue, ya rasanya standar, terbuat dari tepung dan telur yang dibakar, harganya 10 bath. Rasanya tidak ngaruh ke perut sama sekali. Akhirnya saya dan eji mencari tempat makanan berat.
Toko pertama yang dikunjungi adalah pasta-pastaan, tempatnya cozy, ah takut mahal, tapi tidak ada salahnya bertanya dulu. Setelah ditanya, ternyata menu makanan yang dipajang itu bohong, mereka hanya menjual makanan Thailand. Fiuh… akhirnya saya bertanya ke penjaga toko tersebut, tempat makan mana yang menjual makanan vegetarian. kemudian dia merekomendasikan warung makan di depan jalan, jaraknya kira-kira 50meter.
Berjalan sebentar ke depan, akhirnya kami menemukan warung makan tersebut. Tempatnya sih sama kaya warung makan disini, makanannya dipajang di etalase. Keliatannya sih enak-enak makannya, setelah ditanya-tanya, ada sejenis babi balado, oseng babi, capcai babi. Kemudian setelah bertanya dengan bahasa standar ‘no pork… no pork.. where’s no pork?” sambil menunjuk-nunjuk makanannya. Akhirnya ada juga makanan yang engga babi, yaitu oseng ikan dan beberapa sayur yang ada ayamnya. Ditambah lagi disana ada nasi, yang lebih penting adalah harganya yang murah meriah, yaitu 30bath, atau sekitar 9000. Ya sama lah kayak warteg-warteg di Jakarta.
Sambil makan, saya dan eji membicarakan nasib kami yang terpisah. Tiba-tiba saja ada SMS masuk ke ponsel saya, wah dari Yunus ternyata. Dia bilang dia sedang di Mall Robinson, sayangnya dia tidak bilang lokasi tepatnya. kemudian saya dan eji buru-buru ke Mall Robinson, sebelumnya saya sempat bertanya ke pemilik warung tersebut dimana Mall Robinson tersebut. Dengan baik hatinya, dan dengan bahasa inggris yang cukup fasih dia menerangkan sambil memberikan peta ke saya dan eji. Ah bahagianya ketemu orang baik hati..
setelah mendapatkan rute menuju Mall Robinson, saya dan eji meluncur ke mall tersebut. Ah nampaknya cukup dekat, tidak sampai 10 menit. Saya parkir motor, dan parkirnya bebas dimana saja, kemudian masuk ke Mall tersebut, namun tidak menemukan yunus maupun saras. Sampai-sampai kami mencari ke toko buah dan naik ke lantai paling atas mall tersebut. Alhasil, saya yang frustasi keluar dari mall tersebut dan mencari telepon umum. ketika ingin memasukan koin, eji berteriak kecil “itu diaa!!!” sambil menunjuk ke arah parkiran motor. Akhirnya putra putri Indonesia yang terpisah di negeri orang bertemu kembali.
Destinasi selanjutnya adalah Phuket Harbour, perjalanan menuju pelabuhan tersebut seperti jalan jalan ke daerah Jakarta Utara. sempat juga berhenti sebentar ketika menemui masjid di pinggir jalan. Kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi, sempat nyasar namun setelah nanya-nanya akhirnya menemukan juga.
Tak disangka pelabuhannya rame banget oleh travel-travel ke Phi-Phi Island. Ada hal yang mengejutkan, ketika kami putus asa melihat pelabuhan yang begitu ramai, saya melihat seseorang yang saya kenal, yaitu Dara. Dara adalah teman saya, saras, dan eji waktu SMA, kami juga lumayan sering jalan bareng kalau di Jakarta. Wah, ternyata dia baru dari Phi Phi Island dan mendapatkan paket tour seharga 1000bath. Kemudian kami mencoba masuk ke dalam pelabuhan tersebut, tetapi tidak mendapatkan apa-apa, bingung mesti mencari travel dimana. akhirnya setelah putus asa, kami memutuskan untuk kembali ke Phuket city, untuk (lagi-lagi) mencari durian.
Beberapa jalan telah diputari namun durian tak juga ketemu. Kemudian kami memutuskan untuk melanjutkan ke destinasi selanjutnya yaitu Promtep Cape, berhubung hari pun sudah mulai sore. Jalan-jalan sore itu cukup padat, mungkin karena berbarengan dengan jam pulang kantor dan pulang sekolah. beberapa anak menaiki tuk tuk yang lebih mirip dengan tronton itu.
untuk yang kedua kalinya, saya terpisah dengan yunus akibat jalanan yang super penuh dengan kendaraan. Kemudian saya sempat berhenti sebentar, takut-takut saya yang jalannya kecepatan. Setelah lama menunggu, kami tak sabaran juga, akhirnya saya dan eji melanjutkan perjalanan ke promtep cape yang kira-kira masih sekitar 30km lagi.
Perjalanan masih jauh banget, namun matahari sudah terlihat sejengkal dari garis batasnya. Saya makin mengebut motor, kebetulan jalanan yang lebar itu sudah sepi, kira-kira 90 sampai 100km/jam. ah bodo amatan, sedari tadi saya belum menemui polisi, terus gas, yang penting cepat sampai.
Wat Chalong dan Big Buddha telah kami lewati, namun sepertinya promtep cape masih jauh tuh. ah terus gas motornya.. terus!!! ukuran waktu saya adalah matahari di sebelah kanan saya yang makin menurun. Sial, kok rasanya udah jauh banget tapi belum sampai-sampai. Akhirnya saya melewati Rawai Beach, kemudian plang promtep cape menunjukkan angka 5km. jalan menanjak pun menyambut kami menuju garis finis di promtep cape. Kakinya eji sampai keram karena dari tadi tidak bergerak dan terus terhempas angin yang sangat kencang dan kadang-kadang cukup dingin.
Sampai akhirnya, kami melihat keramaian. Sampai juga di Promtep cape, ujung selatannya Phuket. oke, berarti saya sudah membelah pulau ini! kemudian saya parkir motor, dan buru-buru ke point view sunset tersebut. sambil senang gembira melihat pemandangan sekitar yang cukup keren, saya dan eji buru-buru menyiapkan tripod untuk berfoto sampai akhirnya ada suara dari ujung “sampe juga tuh bocah”. ternyata mereka sudah sampai duluan.. ah sial!
Perjalanan kali ini terasa sangat berbeda. Biasanya saya bersama teman-teman ketika bepergian selalu berjalan kaki atau menggunakan transportasi umum, menyewa mobil pun hanya sesekali saja. Di Phuket sama seperti di Bali, transportasinya sangat minim, sehingga mengharuskan saya bersama ketiga teman saya untuk menyewa motor. Berdasarkan info yang Yunus dapat di Internet, kisaran harga menyewa motor di Phuket itu sekitar 250 sampai 400 bath. Setelah beberapa tempat penyewaan kami datangi, baru lah kami mendapatkan harga yang cocok, yaitu 250 Bath atau sekitar Rp. 75.000 untuk 24jam penuh, kalaupun dibagi dua harganya bisa dikatakan murah. Tempat penyewaan motor kami itu di seberang Mall Jungceylon, Mall terbesar di Patong Beach. Penyewaannya pun tidak membutuhkan SIM, hanya saja, Paspor saya harus disita oleh ibu-ibu berambut pirang penjaga penyewaan motor tersebut.
Setelah mendapatkan motor matic tersebut, tujuan selanjutnya adalah tempat pengisian bensin. Beruntung sekali Yunus dan Saras mendapatkan motor yang sudah terisi penuh bahan bakarnya. Sedangkan saya harus ketar ketir karena bensin di motor saya sudah tiris banget. Jalanan Patong Beach yang satu jalur membuat saya makin deg-degan karena harus muter muter untuk mencari POM Bensin tersebut. Oh iya, harga bensin disana yang pasti lebih mahal dari pada di Indonesia. Sekitar Rp. 10.000 perliternya. Makanya saya cuma mengisi dua liter saja, syukur-syukur cukup dibawa muter-muter seharian.
Tujuan pertama kami adalah Wat chalong, tentu kami harus melewati Phuket city terlebih dahulu. Tipe jalanan di Phuket adalah tanjakan tinggi dan turunan terjal, belum lagi angin yang super kencang seperti di Tol Cipularang. Untuk pertama kalinya saya melewati tanjakan dengan sudut kemiringan kira kira 60 sampai 75 derajat. Setelah menanjak kita harus melewati turunan super terjal, hampir saja saya tidak bisa mengerem dan sempat membayangkan apa yang akan terjadi pada saya dan Eji jika saya tidak kuat menarik rem. fiuhh… turunan pertama telah dilewati, dan nampaknya ini memang sebuah pemanasan karena perjalanan di depan akan jauh lebih berat. hahaha
Tiba di Wat Chalong kami langsung berfoto-foto. Nampaknya Wat Chalong ini adalah temple paling ramai di Phuket sekaligus Wat atau temple terbesar disini. Ternyata masuk kesini tidak bayar, tidak seperti masuk ke Candi-candi di Indonesia. Saya tidak tahu kapan Wat ini dibangun, namun nampaknya Wat atau temple ini sangatlah terjaga. Baik pelataran maupun dalam dari temple tersebut terlihat bersih dan terjaga. Hal tersebut mungkin karena ini adalah tempat beribadah. Kemudian warga lokalnya pun sangat menyayangi tempat tersebut sehingga tidak ada tangan-tangan jail yang merusak tempat tersebut.


Jalanan yang sangat lebar, sepi, dan berangin kencang adalah santapan kami siang itu. Tujuan kedua kami adalah Big Buddha. Dari kejauhan saja patung tersebut sudah dapat terlihat, awalnya saya kira sih sudah dekat, ternyata cukup jauh juga. Berarti bisa dibayangkan patung tersebut akan sebesar apa. Jalanan menuju Big Buddha mesti memasuki perkampungan dan beberapa hutan karet. Setelah itu kita akan melewati tebing-tebing yang di sebelah kirinya terlihat pantai dan lautan. Beberapa kali kami dihantam tanjakan super ekstrem, sudut kemiringannya sekitar 75 sampai 80 derajat. hahaha Saya rasa hal ini lah yang membuat bensin motor saya ini cepat habis.
Lagi-lagi untuk masuk ke Big Buddha pun tidak dikenakan biaya, parkirnya pun gratis. ah senang banget kalau begini terus. Patung Big Buddha ini ternyata belum selesai dibangun akibat kurangnya dana untuk menyelesaikannya. Oleh karena itu, jika kita ingin membantu, kita bisa membeli keramik putih yang nantinya akan ditempet di patung Buddha tersebut. Kita pun bisa menulis nama kita, atau apapun di keramik tersebut. Kalau tidak salah harga keramiknya 100 Bath.
Pemandangan disana bukan hanya Patung Buddha super besar tersebut, namun kita juga bisa melihat pemandangan Phuket bagian selatan dari atas sana. Gradasi warna biru hingga biru muda kehijauan menyegarkan mata di tengah terik yang sangat menyengat. Kemudian suara puluhan lonceng yang digantung di tangga di sekitar patung pun cukup menenangkan pikiran dan melupakan segala lelah.
Setelah cukup berkeliling di sekitar Big Buddha, saatnya kami turun gunung. Tujuan kami selanjutnya adalah Phuket city untuk mencari durian dan makan siang. Setelah tadi melewati tanjakan yang ekstrem, ketika pulang kami dihadapkan pada turunan super terjal. ok, sebaiknya saya matikan mesin, irit bensin, Yes!

Matahari pagi malu malu menyapa pagi kami di Nova City, Taipa. Udara pagi yang cukup dingin masuki kamar kami lewat jendela kamar yang tidak di tutup. Hembusan angin cukup kencang, mungkin karena kami berada di lantai 23. seperti kemarin, kami memulai aktivitas jam 7 pagi, disaat yang punya rumah belum bangun atau mungkin beberapa jam yang lalu baru pulang.
Kami meninggalkan tempat iuri sekitar pukul 8, tidak lupa menuliskan notes yang bilang kalau kami akan balik kesana siang hari. Seperti kemarin kemarin, pagi itu kami kembali mengganggu mas mas 7 eleven, dan orang yang jaga masih orang yang sama, mungkin dia kebagian shift pagi, apes juga tiap pagi mesti nguras otak untuk berkomunikasi dengan bahasa inggris. Hahaha
Sarapan pagi itu tidak lagi dengan hot shoot atau indomie, melainkan dengan roti dan coklat, lagian rasa kenyang dari menu McD semalem masih terasa. Semoga ganjalan perut pagi itu cukup untuk bahan bakar jalan jalan di Coloane Village.
Kemudian kami naik bus di Estrada Alm. Marques Esparteiro (keren ya kayak lagi di portugal). Bus yang kami naiki bernomor 26A, cukup bayar 3 MOP kami akan sampai di Coloane, saya rasa rutenya cukup jauh. Kali ini supirnya cukup ugal-ugalan. Padahal waktu itu ada nenek nenek sekitar umur 70 sampai 80 tahunan yang bawa gembolan super besar. Kasian juga nenek itu mesti menahan berat tubuh dan bawaannya di situasi tidak stabil seperti itu. Kemudian di bus itu juga ada orang filipin yang ngobrol bahasa tagalog (saya rasa ini TKP-tenaga kerja philipin). Ngeliatin daerah Cotai yang ternyata dulunya laut kemudian sekarang sudah jadi daratan karena reklamasi. Melewati daerah hijaunya Macau di Coloane.
Akhirnya kami sampai di pemberhentian terakhir yaitu di Parque de Hac Sa. Disana ada kolam renang yang dipenuhi oleh anak anak TK, kemudian di depannya ada pantai, kayaknya sih itu satu satunya pantai di Macau deh.
Ketika berjalan ke pantai, zzzz… zooonk banget rasanya. Bayangkan saja seperti pantai Ancol namun sepi. Saya lihat disana cuma ada beberapa orang, yang nampaknya karyawan yang membolos dari kerjaan, mereka berlari-larian di pantai yang sama sekali tidak berpasir putih. Warna air pantainya pun persis mirip di Ancol, untung lah sepi.
Tidak ingin menambah kegaringan pagi itu, kami langsung tancap ke Coloane Village. Semoga disana tidak lebih zonk disbanding pantai Hac sa ini..

Malam itu ga ada puas puasnya motret-in Grand Lisboa, gedungnya yang super canggih (norak) itu menggoda mata banget. Akhirnya yang dapat mengalahkan semuanya adalah rasa laper dan angin malam yang mulai kayak angin dari kulkas. Bingung juga mau makan dimana, akhirnya kami ingin mencoba ke festival kuliner macau di Macau Tower. PR banget deh mesti ke Macau Tower dulu, masalahnya bingung mesti naik bus apa, sebenernya sih ga jauh jauh amat, karena badan yang mulai loyo ya ga ada ruginya naik Bus.
Akhirnya kami menunggu Bus, namun disana ada 3 sampai 4 bus stop, nah ini beda beda arahnya. Ada yang ke Taipa, ada yang kesini, ada yang kesana, kesitu dan macem macem. Yaudah liat peta, oke mungkin bus stop yang ketiga sebelah kiri. Bus dateng, kami yak arena udah capek anteng anteng aja. Lagian ngeliatin lampu lampu jalan kan seru juga. Belum lagi kami sempat melewati jalur Grand Prix yang sudah dibuka.
Kemudian saya liat kanan kiri. Loh kok menjauh ya dari Macau Tower. Oh mungkin mau muter dulu, kan jalur busnya rada rasa, cuma satu jalur dan mesti muter kemana mana dulu. Kami tetap duduk dengan tenang, sembari mendengarkan pembicaraan orang lokal (sok ngerti..) tiba tiba terdengar orang ngobrol, eh kok kayaknya ngerti ya? Ehh orang Indonesia juga, ih pasti TKW deh. Haha asumsi seperti itu selalu keluar ketika melihat orang orang Indonesia yang naik bus, yaiyalah mana ada orang Indonesia yang berlibur naik Bus kayak gitu kecuali kami kami ini beserta para TKI disana. Biasanya orang Indonesia nginepnya di hotel bintang 7 seperti Grand Lisboa atau malah The Venetian, pernah saya membaca sebuah cerita orang jadi ada orang Indonesia yang nginep di The Venetian dan ga keluar-keluar hotel selama tiga hari, hiiiii hidupnya rada rada deh (rada tajir dan rada blo’on)
Lanjut masalah bus, akhirnya perjalanan berakhir, namun… loh kok? Loh dari tadi kami sama sekali tidak melewati Macau Tower, ada apa ini?? Udah malah supir bus nya tidak berhenti di ujung rute, sampe sampe dimarahin sama ibu ibu penumpang, dan pas turun ibu ibu nya curhat ke saya “cang cing cung cong cong youtaiaa..” yah buu… saya mana ngerti …
Yaudah dengan pasrah kami turun di tengah kota yang aneh. Malahan udah malem, kalau itu bus terakhir gimana??? Liat kiri kanan depan belakang kayaknya ga ada McD atau tempat makan, hanya rumah susun dan apartemen kumuh gitu. Namun bus dengan nomor yang sama dateng, aahh syukur lah, namun bus ini langsung ke Taipa kayaknya. Ya baiklah kami makan di dekat tempat kami tinggal aja, ada McD disana.
Kami melewati Casino Oceanus, jalan jalan pun masih ramai. Lampu malam, pejalan kaki, kios dan toko toko, yaa cukup nyaman melihat itu semua, kota masih hidup atau sebenarnya baru hidup.
Kemudian ada hal aneh, kok rasa rasanya ini jalan yang kami lewati tadi ya.. terus ada Grand Lisboa, terus… terus kami melewati Bus Stop tempat kami menunggu tadi. Loh kok? Ja.. ja.. jadi?
Intinya kami balik lagi ke tempat kami menunggu bus sewaktu berniat ingin ke Macau Tower, sejak saat itu saya berasumsi ”mau nyebrang aja kok mesti ngiterin satu pulau?”. baik lah kami balik saja ke Taipa, makan disana.
Avenida Almeida Ribeiro. Malam itu kami menyusuri jalan tersebut. Kiri kami adalah bangunan bangunan klasik, sebelah kanan kami adalah toko-toko dengan merek terkenal. Pedestrian yang luas membuat kami berjalan kaki untuk menuju Grand Lisboa. Ditambah warga lokal yang juga cukup ramai berjalan kaki. Udara malam itu sejuk dan cukup berangin. Rasanya kehidupan di Macau Peninsula ini baru dimulai.
Kalau melihat dan merasakan sekitar, rasanya ingin waktu malam lebih lama dari pada siang. Semuanya menarik untuk dilihat, harusnya dengan berjalan kami bisa sampai Grand Lisboa dengan waktu 15menit namun karena sering berhenti untuk motret jadi lebih lama. Dari kejauhan gemerlap Grand Lisboa sudah terlihat, bahkan ketika masih di Ruin of St. Paul. Lampu-lampu di gedungnya yang berubah ubah setiap beberapa detik sangat menarik untuk dilihat. Belum lagi gedung tersebut membuat konfigurasi konfigurasi yang judi banget. kayaknya semua yang ada di Macau ini semuanya judi, sering melihat dadu dijadikan aksesoris disana, begitu juga dengan poker.
Akhirnya kami sampai di Grand Lisboa. Di lobby nya sih biasa saja, ga megah megah amat. Kemudian saya dan yunus masuk ke Casino nya, disana ada tulisan yang melarang bocah dibawah 18 tahun dilarang masuk. Untung deh saya sudah masuk umur 19. haha
Tentu di dalam sana kami langsung melihat banyak sekali orang berjudi beserta para bandar, mesin judi, dan meja meja judinya. Di lantai satu itu sih tidak terlalu padat, nampaknya ini untuk kelas ecek-eceknya. Kemudian ketika naik ke lantai duanya. Wuuuiiiiiiihhhh kayaknya seluruh ruangan, ruangan yang luas banget, isinya cuma meja judi, koin koin judi, serta para pemasang yang memadati ruangan tersebut.
Di tengah-tengah ada sebuah stage, disana ada beberapa wanita yang super cantik menari nari. Mereka hanya menggunakan beberapa helai kain yang lama lama kain itu dibuang dan hanya menyisakan beberapa benang di tubuhnya. Wooooowww sayangnya di dalam casino tidak diizinkan membawa dan menggunakan kamera.
Sebenarnya saya dan Yunus masuk kesana untuk mengincar minuman gratis dan kue-kue (eh ketauan deh…) tapi kok kami hanya menemukan minuman minuman dingin ya.. padahal udara di luar sudah dingin, males juga nanti beser di jalan. Ya namanya budget traveler tidak punya pilihan kalau ingin gratis sih..
Ternyata di luar Nobi sedang asik motret dan menggoda mas-mas polisi di perempatan jalan. Aduh bisa juga nih nobi usahanya menggoda sambil menanyakan jam berapa bus terakhir ke Taipa beroperasi. Ketika kami temui, Nobi hanya tawa tawa saja, usut punya usut, wajah mas polisi itu sih cakep tapi suaranya yang bikin geli, hahaha saya saja diceritain nobi sampai geli sendiri… ya tapi nice try lah Nob! hahaha

Lost in translation, lagi lagi kami tersesat karena masalah bahasa. Entah yang kami tanya salah mengerti kemudian mereka memberikan petunjuk yang salah, atau karena kami buta arah?
Waktu itu kami naik bus nomor 18, kami dibawa ke Macau Tower lagi. Yah elaah empet juga ngeliat ini lagi, udah ga naik sampai atas kan karena sayang buang uang 150 MOP (pengakuan: saya hanya membawa sekitar 350 HKD yang berarti 350 MOP). Entah karena apa kami turun disana, padahal itu bukan ujung dari rute bus tersebut. Lalu setelah bengang bengong bingung mau naik bus apa ke Ruin of St.Paul kami memutuskan untuk naik Bus 18 lagi sampai ujung. Keputusan ini cukup gambling sebenarnya, tetapi lebih baik mencoba dan coba tanya tanya dengan bapak supirnya.
Alasan kami bisa muter muter begini adalah karena banyak jalan di Macau yang satu jalur. Jadi kalau mau kesana, mesti kesini dulu, terus baru kesitu dan bla bla bla… cara gampangnya sih kita ke ujungnya dulu, kemudian ikutin rute bus nya lagi sampai awal, yaa ribetkan?
Keadaan bus cukup sepi, ya saya nanya deh ke supir bus nya. Dia pikir saya ini juga orang cina juga, jadi dia ngomongnya pake bahasa cina (entah mandarin atau canton). Kemudian saya tanya lagi “is this the bus to senado square?”, kemudian dia menjawab cang cing cung cang cang cang… saya kembali nanya dengan lebih simple “Senado square?”. Kemudian dia ngomong cang cing cung lagi sambil nunjuk nunjuk ke depan, kemudian bilang “put here”, sambil mempraktekan menempelkan Macau Pass card ke alat pembayarannya. Ooohhh mungkin maksudnya nanti naik sampai ujung terus bayar lagi…
Lalu saya kembali nanya dong untuk memastikan “so is this the bus to senado square but we must change bus with the same bus?”. Yaa seperti sebelumnya dia hanya nunjuk nunjuk ke depan terus ngomong entah bahasa canton atau mandarin.
Okay, sejauh ini sih saya nangkep maksudnya, jadi bus yang kami naiki itu sudah benar tapi mesti ke ujung rutenya dulu, terus naik bus yang sama kemudian bayar lagi pakai Macau Pass card.
Kami sudah merasa aman karena naik bus yang benar, kemudian setelah bus berjalan cukup lama dan bus hamper penuh dengan anak anak sekolah kami mulai was-was. Aduh turun dimana ya? Udah malah bus penuh kan ga bisa lihat ke luar melihatin jalan Avenida Horta e Costa, loh kok? Loh kok? Cocokin di peta kok udah kelewatan ya kayaknya? Sontak kami turun dari bus. Aduh tersesat deeh…
Satu-satunya sih tanya orang, kebetulan ada polisi dan beruntunglah mereka mengerti bahasa inggris sedikit-sedikit. Setelah tanya, dia bilang kami harus naik bus nomor empat dan turun di depan senado square nya langsung. Kami masih ragu, kemudian coba liat peta, tambah bingung, ya kemudian kami coba Tanya orang lagi.
Baru ditanya “do you speak English?” mereka cuma geleng geleng. Kemudian bus yang dibilang pak polisi datang, tapi kok penuh banget, ya udah kami nunggu aja, sambil liat liat peta lagi, ya iseng iseng saya coba nanya orang lagi untuk memastikan. Di sebelah saya ada segerombolan anak SMA-nya nih. Wah ada anak cowok yang tampangnya bule, bisa kali ya bahasa inggris, kemudian saya tanya deh “do you know the bus to senado square” then he said “no no no, I can’t speak English, she can” sambil menunjuk teman wanitanya yang orang lokal. aduh ini sih…. Bule… hhmm bule nyasar yaa…
Sejak saat itu, saya makin bingung untuk bertanya ke orang, nebak nebak dia bisa bahasa inggris pun kayaknya ga guna, yang mukanya blesteran aja ga bisa bahasa inggris…

Tiga hari sebelum berangkat ke Macau, Yunus sms ya yang intinya memberitahu bahwa akan ada Macau F3 Grandprix ketika kami disana. Dia khawatir kalau jalan jalan akan ditutup dan penginapan akan mahal karena pastinya Macau akan ramai dikunjungi. Yaa disisi lain seru sih, ada tambahan objek wisata, toh tiket untuk melihat Macau Grandprix hanya sebesar 50 MOP atau sekitar Rp.55ribu.
Hari itu tanggal 18 November, benar saja tuh ada Macau Grandprix. Macau grandprix diadakan di Macau Peninsula. Awalnya yang saya baca di lonely planet Hongkong & Macau itu diselenggarakan di sekitar hotel & casino Grand Lisboa namun pagi harinya ketika melewati Grand Lisboa tidak terlihat apa apa tuh, jalan lancar-lancar saja.
Sekedar informasi, sekitar Grand Lisboa itu adalah pusat kegiatannya. Yaa mirip mirip kayak jalan soedirman lah kalo di Jakarta. Kebayang ga ada lomba balapan F3 gitu yang diadain di Jalan Soedirman? Hahaha. Seperti yang tadi sudah saya ceritakan, pagi nya sih ketika melewati daerah sekitar Grand Lisboa anteng anteng aja. Ketika itu kami menuju sebuah masjid (satu satunya masjid di Macau) yang berada di sekitar Estrada de maria. Kemudian ketika melintasi Avenida de Amizade yang terdapat Lotus Flower in Full Bloom, kok ada nguiiiing…ngoooeeeiiing gitu ya… nyaring sekali pula… suaranya pun kayak suara suara gaib. Aduh ini tawon dari mana deh?.. apa salah denger ya? Rupanya diatas jalan yang kami lewati itu adalah lintasan F3 Grandprix tersebut. Wooooww mobilnya sama sekali ga keliatan loh, Cuma suara suara gaib si mobil balap itu aja. Kayaknya sih beneran super kenceng deh itu mobil jalannya.
Ya dasar emang saya nya yang norak, masih penasaran dengan dimana sih mobilnya? Pengen liat dooong! Ya saya celingak celinguk ngeliatin ke kaca bus terus. Sialnya, jalanan benar benar ditutup, ya gara gara itu jalanan jadi rada macet sedikit, belum lagi kami mesti muter muter nyariin satu satunya masjid yang ada di Macau. Tanya pak polisi dia malah nyasarin kami, emang saat saat kayak gitu cuma bisa ngandelin peta sama perasaan.
Kalau ditanya kami nonton Macau Grandprix tersebut atau tidak, tentu jawabannya tidak. Hari itu sudah cukup sore, sekitar jam setengah 5, masih banyak tujuan wisata kami di Macau Peninsula, jadi yaa kami ingin melanjutkannya ke Reruntuhan Gereja St. Paul yang memang sudah jadi icon-nya macau. Lagian kalau kemaleman takut kehabisan Portugese Eggtart-nya Macau yang terkenal itu. Yuk mari kita berburu Eggtart!!!
Setelah empat jam penerbangan, akhirnya kami tiba juga di Aeroporto Internacional de Macau. Saat itu waktu menunjukkan pukul 23.00 waktu setempat. Rencananya kami akan bermalam di bandara setidaknya sampai ada bus menuju kota. Namun ketika melihat keadaan bandara dan beberapa petugas yang sliweran membuat aga jiper juga untuk tiduran di sana. Belum lagi AC yang dingin. Mulai dilema antara nginep di bandara atau ke apartemen salah seorang teman.
Tiba tiba ada seseorang yang bertanya ke kami, ”are you Indonesian too?”. Ya kami jawab iya, awalnya kami kira dia justru warga local situ yang mau pulang kampung, ternyata orang Indonesia juga. Setelah berkenalan dia bertanya “Lu olang ngapain kesini?” ya kami jawab untuk liburan, ketika kami nanya balik dengan pertanyaan yang sama dia menjawab “ya kalo gua sih mau nyebrang ke cina, mau nemuin pacar gue, lagi berantem nih, wuaah parah deh kayaknya yang ini makanya gue samperin”
Baiklah setelah curcol dan cerita masing masing mengenai pengalaman macau dan ini itu nya, sampai lah kami ke pertanyaan yang dari tadi belum terjawab, mau tidur dimana kita?
Dengan baik hatinya, Tandi, teman nemu di jalan kami itu memberikan koin 1 MOP untuk menelpon teman kami yang akan memberikan tumpangan. Setelah pencet nomor nya, ternyata nyambung juga. Kemudian saya menceritaan kalau kami baru sampai tapi bingung cara ke tempat teman saya itu, lalu dia menyarankan untuk naik taxi karena cukup murah sekitar 30 MOP (atau Rp 33.000), dia masih bekerja dan baru pulang jam 2 dan silahkan masuk saja ke apartemen nya karena pintu tidak dikunci. Ahh… akhirnya jadi ada tempat untuk bersinggah selama di Macau. Kemudian saya, yunus, dan nobi serta mengajak tandi memutuskan untuk pergi ke apartemennya yang masih satu pulau dengan airport macau.
Petualangan ini di mulai ketika Yunus, Nobi, dan Saya mendapatkan promo tiket sebuah maskapai yang memang rasanya murahnya gila-gilaan. Waktu itu seharusnya kami pergi ke Hong Kong, namun karena tidak ada harga yang murah di tanggal yang diinginkan, maka akhirnya Yunus memilih Macau yang memang sebagai tujuan kedua.
Sebulan lama nya kami menunggu trip yang ditunggu-tunggu itu, akhirnya tanggal 17 November 2010 datang juga. Siang itu Saya, Nobi, dan Yunus sudah di Bandara Soekarno Hatta. Sambil menunggu pesawat yang berangkat pukul 16.50 kami menghabiskan waktu dengan muter muter di sekitar Terminal 2 bandara CGK itu. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk makan dulu di KFC.
Setelah check-in, hal tak terduga terjadi, panggilan untuk penerbangan ke Macau dengan nomor pesawat sekian sudah ditunggu. Kami buru-buru mengambil boarding pass, kemudian Yunus dan Nobi mengurus bebas fiskal nya dengan NPWP, kami mulai mengantri di bagian imigrasi. Awalnya masih agak tenang, namun kok ada panggilan lagi, malahan bilangnya pesawat sudah siap berangkat padahal itu masih jam 3 sore dan pesawat berangkat jam 16.50. Haaaah matilah kami! dan ini lah adegan yang diinginkan nobi, lari-larian di bandara kayak di film-film. Hahahaha seru sih memang, tapi semuanya serba deg-deg-an.
Setelah masuk ke boarding lounge, diminta boarding pass, passport dan lain-lainnya, kami bertanya ke mba-mba petugas maskapainya, dan ternyata belum mau berangkat. Memang pesawat sudah siap namun belum mau terbang kok. Haduh sudah takut aja. Akhirnya kami memang harus menunggu sekitar 30 sampai 45 menit.